Selasa, 09 September 2014

Lihat keunikan Perayaan Bau Nyale

Ribuan warga berebut cacing laut atau nyale dalam Pantai Seger, Desa Kuta, Kabupaten Pulau Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Kamis (20/2/2014) mulai pukul 03.00 Wita.
Seluruh warga Lombok tersebut sudah berjaga-jaga mulai semalaman demi keluar ke laut di Pantai Seger, Kecamatan Pujut, serta meraih “sorok”, media penangkap ikan yang terbuat dari bambu.

Keriuhan menerima nyale sesungguhnya sudah ada mulai pukul 02.00 Wita, pada mana warga sejak bersorak-sorak dengan target supaya cacing segera muncul menuju belahan laut.
Selingkungan pukul 03.00 Wita, sorak-sorai warga lebih meriah, begitu nyale sejak bermunculan dalam permukaan laut yang tetap gelap. Serta mendapatkan sorok juga lampu penerang, warga segera masuk menuju laut, tak sabar ingin menangkap nyale sebanyak-banyaknya.
Abdul Majid Sidik, warga Sekotong, Lombok Barat, menjelaskan setiap season dirinya selalu turut melihat kemeriahan perayaan hukum adat “Bau Nyale” pada Pantai Seger.
“Tradisi menangkap nyale selalu menggoda, kini ketika memperhatikan warga yang mempercayai jika nyale adalah penjelmaan Putri Mandalika, setelah merekapun bersama-sama menyambutnya,” jawab Abdul.

Bagi ia, adat istiadat menangkap nyale kali itu makin tertib dengan bukan telah tersaji kemacetan panjang dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Pemerintah kabupaten telah mempersiapkan acara juga maksimal, akhirnya tak sudah ada penumpukan pengunjung. Panggung hiburan begitu juga letaknya dipindahkan, menjadi warga tidak berjubel lagi,” ujarnya.

Meskipun kawasan Desa Kuta semalam diguyur hujan deras serta cara menjadi berlumpur, tapi tidak memotong antusiasme warga demi turut memeriahkan Bau Nyale.
Bahkan, tutur Abdul, tak sekedar penduduk lokal yang berminat melongok kemunculan nyale dalam Pantai Seger, tapi terlihat dengan pelancong lokal dengan asing dengan tak kalah bersemangat.

“Sejak tetap gelap, wisatawan asing telah ikut masuk laut dengan menangkap nyale. Semoga Bau Nyale dapat menjadi adat lokal yang mendunia,” ujarnya.
Kebiasaan Bau Nyale yang sudah digelar lewat turun-temurun mulai ratusan musim silam juga dipertandingkan bermula dari penghitungan penanggalan Suku Sasak itu, dihelat di 2 lokasi, yakni Pantai Seger, Desa Kuta, Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, serta Pantai Kaliantan, Desa Serewe, Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur. Di penyelenggaraan pada Lombok Tengah, disebut serta “Core Even Bau Nyale”.

Kemeriahan acara “Bau Nyale” telah tersaji, saat sejenis cacing laut muncul dalam dini hari di seantero air laut. Kemunculan cacing yang berwarna merah berseling hijau ini, langsung disambut warga yang telah bersiaga serta begadang juga duduk-duduk atau menentukan tenda pada tepi pantai.

Kepada kepercayaan publik Suku Sasak, cacing laut tersebut sebagai penjelmaan Putri Mandalika dari sebuah Kerajaan Tonjang Beru, yang demikian mencintai rakyatnya, pada akhirnya memilih terjun menuju laut. Putri sengaja terjun ke laut, supaya masyarakat di negerinya terhindar dari peperangan, sebab ketika ini dirinya tengah diperebutkan segala pangeran yang harap menyuntingnya.

Putri Mandalika khawatir, jika dirinya menentukan satu diantaranya di antara pangeran ini, maka peperangan akan sudah ada, pada mana masyarakat tidak berdosa bakal menjadi korban. Mengalami polemik itu, Putri Mandalika sengaja menceburkan diri ke laut, sehingga masyarakat pun terhindar dari bahaya peperangan.

Begitu tubuh Putri Mandalika hilang ditelan air laut, mendadak bermunculan cacing-cacing laut. Penduduk pun mempercayai jika cacing itu sesungguhnya yaitu penjelmaan Putri Mandalika.

Kepercayaan ini yang menciptakan warga selalu bersemangat turut larut pada kemeriahan adat tersebut, untuk menunggu dini hari, tepat ketika cacing Putri Mandalika asal bagi rakyatnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar